Wednesday, December 2, 2015

Drilling Soal Pemintalan 1

1.      Apakah syarat serat dapat dipintal menjadi benang? 
            1.)    Serat harus cukup panjang
            2.)    Serat harus cukup halus
            3.)    Serat harus cukup kuat
2.      Jelaskan pengertian Trash content, Cotton Grade, Neps dan Naps
            1.)    Trash content adalah kandungan serat pendek yang dinyatakan dalam persen
            2.)    Cotton grade adalah tingkatan kualitas kapas berdasarkan panjang, warna dan jumlah kotoran.  Ada 7 Kategori grade yaitu: White, light spotted, spotted, tinged, yellow stained, light grey, dan grey.
           3.)    Neps adalah kandungan serat yang menggumpal dan tidak dapat diuraikan oleh jarum sekalipun. Besarnya dinyatakan dalam persen
         4.)    Naps adalah kandungan serat yang mengggumpal dan masih bisa diuraikan oleh jarum. Besarnya dinyatakan dalam persen
3.       Apakah Pengertian Mixing dan tujuannnya?
Mixing adalah pencampuran serat yang sama akan tetapi jenisnya berbeda pada mesin blowing, contohnya mixing antara kapas Andy dan kapas Sea Island. Tujuan mixing adalah:
            1.)    Untuk mempertahankan sifat yang menguntungkan pada masing- masing serat dan menghilangkan atau setidak- tidaknya mengurangi sifat yang merugikan, karena masing- masing serat memiliki mulur, kekuatan, stabilitas dimensi yang berbeda, hal ini dapat mempengaruhi effisiensi sifat fisik dan mekanis pada hasil campuran
       2.)    Menstabilkan Mutu
      3.)    Meningkatkan kerataan benang
4.      Berikan contoh mixing tiga buah
Sebuah perusahaan membutuhkan kapas per minggu dengan mixing sebagai berikut:
           1.)    42 ton kapas Upland, 32 Ton kapas Sea Island, 60 ton kapas India.
           2.)    3:2:1:0,2 kapas Sea Island : Upland : India : Andy
           3.)    31 bal kapas India: 21 bal kapas Australia: 72 bal kapas Sea Island
5.      Jelaskan pegertian Blending dan apa tujuannya?
Blending adalah percampuran serat yang berbeda pada mesin drawing. Pencampuran ini dilakukan pada sliver carding yang masuk ke mesin drawing karena apabila dilakukan di mesin blowing maka kerataan pencampurannya akan berbeda. Hal ini disebabkan karena masa jenis antara kedua serat berbeda.
Tujuan Blending:
            1.)    Untuk mempertahankan sifat yang menguntungkan pada masing- masing serat dan menghilangkan atau setidak- tidaknya mengurangi sifat yang merugikan, karena masing- masing serat memiliki mulur, kekuatan, stabilitas dimensi yang berbeda, hal ini dapat mempengaruhi effisiensi sifat fisik dan mekanis pada hasil campuran
         2.)    Menekan Cost
6.      Bagaimana sifat kapas? Lalu berdasarkan sifat tersebut bagaimana pengkondisian kapas dalam gudang penyimpanan?
Kapas bersifat higroskopis yaitu mudah menyerap air sehingga kapas perlu dikondisikan sampai kapas sudah tidak menyerap air lagi. Hal ini akan mempermudah proses produksi karena kapas akan masuk ke mesin tanpa hambatan. Jika pengkondisian tidak benar maka kapas akan saling menempel karena masih menyerap air dari kondisi atmosfer udara.
Lama waktu pengondisian
           1.)    Kapas (serat tumbuhan): 6 jam
           2.)    Woll (serat binatang): 8 jam
           3.)    Rayon viskosan: 8 jam
           4.)    Asetat: 4 jam
           5.)    Poliester (Regain >5%): 2 jam

Suhu ideal untuk pengondisian adalah 25OC dan Regainnya 45-60%

Wednesday, November 25, 2015

Bagaimana mengatasi penurunan kekuatan benang?

Bagaimana mengatasi penurunan kekuatan benang? Benang merupakan hasil akhir dari rangkaian mesin pemintalan. Mesin terakhir dari pemintalan adalah ring spinning. Konsumen biasanya menentukan seberapa kuat benang (g) dan mulurnya (%). Pengukuran kekuatan benang menggunakan alat Single yarn tester atau incline plane tester. Salah satu merk Single yarn tester yang digunakan adalah ASANO dengan standart jarak jepit 50 cm. Pembacaan skala pada alat adalah 20-80%. Sedangkan alat juga menggunakan jarak jepit 50 cm akan tetapi menggunakan kapasitas beban 250,500 dan 1000 g. 

Setelah produk benang di uji oleh pihak QC ternyata kekuatannya turun maka produk tersebut harus dipisahkan menjadi .... Solusi pertama yang harus diubah adalah menurunkan nomer benangnya. akan tetapi tidak boleh terlalu jauh dari permintaan nomernya. Misalnya permintaan benang adalah Ne1 50 maka perubahan nomer sekitar 49,6 sampai 49,9. Konsekuensinya ketika nomor dirubah maka spin plan pun akan dirubah pula. Draft- draft mesin nilainya akan menurun. Biasanya perusahaan memiliki standar spin plan yang diolah melalui Microsoft Exel dipegang oleh Manajer Produksi dan manajer QC. Menggunakan software akan memudahkan perhitungan spin plan yang panjang serta memudahkan mengambil tabel rujukan untuk menghitungnya. 

Lalu kita ingin mengetahui perbandingan produksi antara kedua nomor benang. berapa yard benang yang di produksi untuk pembuatan benang Ne1 50  dibandingkan Ne1 49,8. 

Nomer= (Panjang/840) x (0,4536/1kg)
50= (P/840) x (0,4536/1kg)
P= 92.592,5952

Nomer= (Panjang/840) x (0,4536/1kg)
49,8= (P/840) x (0,4536/1kg)
P= 92.222,2224

Jadi dapat disimpulkan bahwa konsekuensi untuk menaikkan nomer benang akan menurunkan jumlah produksi 370,3728 yard setiap kg nya.

Penurunan nomer benang yang terlalu jauh atau lebih dari 2% dari harga aslinya akan menimbulkan kerugian pada konsumen bagian waping (persiapan tenun). Panjang tarikan yang dinginkan akan berkurang akibatnya banyak timbul empty cone

Thursday, August 27, 2015

Pengujian Slip Jahitan #Evaluasi Tekstil Kain


I.            MAKSUD DAN TUJUAN
Untuk mengetahui beban yang dibutuhkan pada bukaan jahitan 6 mm
II.         TEORI DASAR
Pengujian slip jahitan dilakukan dengan cara contoh uji dilipat kemudian dijahit di dekat dan sejajar dengan lipatan, kemudian dipotong. Contoh uji ditarik ke arah tegak lurus jahitan, sehingga dapt ditentukan besarnya gaya yang menyebabkan terjadinya pergeseran benang selebar yang di tentukan (3 mm atau 6 mm). slip jahitan juga dapat diukur dengan beberapa cm slip benang yang diberi beban tertentu. Kedua cara ini bisa digunakan untuk mencari slip jahitan. Saat ini yang dipilih adalah untuk menentukan gaya yang diperlukan untuk pembukaan selebar 6 mm atau 3 mm. alat yang digunakan adalah alat kekuatan tarik sistem laju tarik tetap dan sistem mulur tetap.
III.      ALAT DAN BAHAN
1.      Peralatan
a.       Alat uji kekuatan tarik dengan sistem laju mulur tetap
b.      Jarak jepit                          : 7,5 cm, penjepit untuk uji cekau
c.       Perbandingan kecepatan penarikan dan grafik 1:5
d.      Kecepatan penarikan 100±10 mm/menit
e.       Mesin jahit listrik jeratan kunci 1 jarum, dengan kecepatan tidak lebih dari 3000 stich per menit
f.       Penggaris skala mm
g.      Jangka sorong
h.      Gunting
IV.      LANGKAH KERJA
-  Lipat contoh uji sesuai ketentuan
-  Pasang contoh uji tersisa 15 cm yang tidak terlipat dan tidak ada jahitan pada klem atas dan bawah
-  Jalankan mesin sehingga terbentuk grafik kekuaran dan mulur kain
-  Kemudian ujung pena dikembalikan pada titik awal terjadi grafik
-  Pasang contoh uji yang ada jahitan pada klem atas dan bawah
-  Jalankan mesin sehingga terbentuk grafik kekuatan dan mulur jahitan
-  Ukur grafik dengan cara
1.      Ukur jarak antara 2 kurva pada gaya 0,5 kg yang merupakan tegangan awal dari contoh uji yang dijahit
2.      Tambahkan 30 mm pada jarak pertama untuk slip 6 mm
3.      Tentukan jarak anatara kedua titik pasangan kurva yang di pisahkan oleh jarak pertama + 30 mm tepat sejajar sumbu pertambahan panjang.
4.      Baca besarnya gaya pada titik tersebut dalam kg pada sumbu kurva kekuatan sampai 2N terdekat
5.      Besarnya tahan slip adalah gaya tersebut dikurangi 5 N

6.      Apabila pemisahan antara dua kurva lebih dari 20,4 kg (200N), laporkan hasil oengujian sebagai lebih besar dari 20,4 kg (200N). dan apabila kainnya sobek dan pemisahan kurva tidak ada, laporkan kekuatan pada saat sobek.

Hasil Pengujian

- Alat:  Instron (alat uji kekuatan tarik sisitem mulur tetap)
-  Contoh Uji: 35x10 cm
-  Tanggal pengujian: 30 April 2015

Ket: Gambar Grafik tidak dicantumkan

1.      Grafik Lusi: Menunjukan tidak ada slip kain

2.      Grafik Pakan: Gaya pada bukaan 6mm ≤ 200 N
        Jarak= (5x6)+3 mm= 33 mm
Jarak 33 mm tidak terdapat pada grafik sehingga gaya yang diperlukan untuk bukaan 6mm adalah 200 N

DISKUSI UJI SLIP JAHITAN
Pada praktek uji kekuatan jahitan kami memotong contoh uji 35x10 cm lalu dijahit sesuai pola. Lalu pengujian dilakukan pada mesin instron yaitu sistem laju mulur tetap dengan jarak jepit 7,5 cm. beban yang digunakan adalah 50 kg. Untuk grafik kekuatan dan mulur yang pertama contoh uji tanpa ada jahitan (cara cekau) setelah grafik pertama terbentuk, contoh uji dipindah pada bagian yang ada jahitannya. Bagian ini tidah boleh ada tarikan sebelumnya,sehingga jarak antara kedua percobaan dalam satu kain ini perlu di perhatikan. Mulur pada bagian ini akan lebih besar, benang- benang akan tergelincir. Inilah yang disebut bukaan. Setelah terbentuk 2 grafik maka dapat dianalisis.

Pada grafik terdapat 100 skala kecil sehingga setiap satu kotak kecil adalah 50:100=0,5 kg. Hal yang pertama dilakukan pada saat menganalisis adalah mencari jarak kedua grafik pada titik 0,5 kg sebagai tegangan awal. lalu cari jarak antara kedua grafik untuk bukaan 6 mm. caranya (6x5)+3=33. 6 adalah bukaan yang diinginkan, 5 adalah perbandingan kecepatan grafik dan kecepatan penarikan dan 3 adalah tegangan awal yang sudah dibaca pada garis 0,5 kg tadi. Pada grafik tidak terdapat garis 33mm sehingga Gaya pada bukaan 6mm ≤ 200 N. Pada grafik Lusi tidak terdapat slip kain karena tidak ada tegangan awal.
KESIMPULAN UJI SLIP JAHITAN
Berdasarkan hasil pengujian, maka dapt disimpulkan:
1.      Grafik Lusi: Menunjukan tidak ada slip kain
2.      Grafik Pakan: Gaya pada bukaan 6mm ≤ 200 N
        Jarak= (5x6)+3 mm= 33 mm
Jarak 33 mm tidak terdapat pada grafik sehingga gaya yang diperlukan untuk bukaan 6mm adalah 200 N

Laporan Pengujian Drape #Evaluasi Tekstil Kain


I.                   MAKSUD DAN TUJUAN
Untuk mengetahui kelangsaian kain
II.                DASAR TEORI
Kelangsaian (drape) adalah variasi dari betuk atau banyaknya lekukan kain yang disebabkan oleh sifat kekerasan , kelembutan, berat kain, dan sebagainya apabila kain digantungkan. Drape factor adalah perbandingan selisih luas proyeksi vertical dengan luas landasan contoh uji, terhadap selisih contoh uji dengan luas landasan contoh uji.
The Fabric Research Laboratories of USA telah mengembangkan suatu metode untuk mengukur drape, hal ini dilakukan dengan cara menggabungkan karakteristik lusi dan pakan menghasilkan suatu tekukan seperti terlihat di took apabila suatu kain digantung pada gantungan bulat.
Pengujian dilakukan dengan cara selembar kain contoh uji ukuran diameter 25 cm disangga oleh sebuah cakra bulat berdiameter 12,5 cm, bagian yang tidak tersangga akan jatuh (drape), seperti terlihat pada gambar.


                                    A                                               B
Bila tidak ada drape yang terjadi maka proyeksi contoh akan tetap 25 cm, karena adanya drape maka terlihat seperti gambar B.


F   = Koefisien drape
As = Luas proyeksi contoh setelah diatas cakra
AD           = Luas contoh
Ad            = Luas cakra penyangga 

III.             ALAT DAN BAHAN
1.      Drape Tester
2.      Seperangkat komputer dengan software drape tester
3.      Pembuat pola lingkaran dengan diameter 25,4 cm
4.      Gunting
5.      Penggaris
6.Kain contoh uji (kain tenun)
IV.             LANGKAH KERJA
1.      Membuat pola lingkaran dengan diameter 25,4 cm pada kain contoh uji
2.      Menggunting pola tersebut, dan tengah – tengah contoh uji dibuat lubang
3.      Menyalakan komputer
4.      Menyalakan drape tester dengan cara membuka kaca (menekannya lalu tarik), kemudian menekan tombol POWER di kanan bawah sampai lampunya menyala
5.      Men-double klik ikon drape tester, sampai menu drape tester keluar
6.      Memasang contoh uji (bagian muka) pada piringan
7.      Meng-klik reset, menunggu sampai lampu merah menyala
8.      Mengetik nama contoh uji dan nama operator
9.      Mengklik mulai untuk memulai, menunggu hingga selesai (untuk men-stop ditengah jalan, klik stop)
10.  Meng-klik Print untuk mencetak hasil tes (menulis data – data yang diperoleh)
11.  Mengulangi langkah 4 s/d 8 untuk contoh uji bagian belakang
12.  Mengklik EXIT untuk keluar

13.  Mematikan komputer dengan cara mengklik start – shutdown – OK  
Pengujian Drape (Kelangsaian)
Tanggal Praktikum      : 2 April 2015
Contoh Uji: Diameter 25,4 cm
Tabel Pengujian Drape
Keterangan
Besar
Satuan
Nama sampel
Muka
Belakang
-
Jari – jari sampel [B]
127
127
mm
Jari – jari landasan [A]
63,5
63,5
mm
Luas sampel [B’]
50.670,75
50.670,75
mm2
Luas landasan [A’]
12.468,98
12.468,98
mm2
Jari – jari rata – rata drape [C]
91,79
93,27
mm
Luas Drape [C’]
26.469,19
27.326,70
mm2
Drape
33,65
38,89
%
Nama Operator
Bilqisth Fitria



Hasil Uji

Bagian Muka 

Bagian Belakang

DISKUSI UJI DRAPE (KELANGSAIAN)

Pada praktikum uji kelangsaian kami memotong contoh uji yang sudah di gambar menggunakan mal berdiameter 25,4 cm dan bagian tengah di lubangi untuk tempat masuk peralatan pada mesin drape tester. Pengujian drape ini memanfaatkan grafitasi bumi sebagai parameter seberapa langsai suatu kain. Kain yang terlihat lepas dari sanggaan cakra bulat berukuran 12,5 akan diukur oleh drape tester menggunakan sensor yang maju mundur sebanyak 500 kali. Data dari pembacaan drape tester ini dapat di print. Akan tetapi pada praktek kali ini kami hanya menulis saja. Hasil tersebut dapat mengarahkan kepada kita untuk menghitung koefisien drape.

KESIMPULAN UJI DRAPE (KELANGSAIAN)
Berdasarkan hasil pengujian maka dapat disimpulkan:
Luas drape= 26,89
Luas landasan=12,46
Luas sampel= 50,67
%Drape= 37,78%