Wednesday, August 26, 2015

Laporan Pengujian Cacat Kain Rajut Barre


Berikut ini adalah Laporan Pengujian Cacat Kain Rajut Barre di kampus untuk memenuhi tugas matakuliah Evaluasi Tekstil 3.

                                                                            BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Industri tekstil memiliki berbagai macam sektor di dalamnya yaitu perajutan,pertenunan, pemintalan dan non woven. Proses produksi ini memiliki faktor yang mempengaruhi hasil produksinya diantaranya adalah effisiensi, rpm, spesifikasi mesin. Effisiensi produk tidak akan mencapai 100%  ketika mesin sudah beberapa kali digunakan karena faktor depresiasi sehingga ada kalanya cacat terjadi pada hasil produksi. Dalam industri tekstil cacat dinilai menggunakan sistem 5 dan 10 poin. Sedangkan jenis cacat kain bermacam- macam jenisnya. Pada Industri rajut terdapat cacat yang mengakibatkan permukaan kain terdapat garis salur- salur berkala atau tidak. Hal ini menimbulkan penurunan kualitas kain atau grade kain. Inspeksi kain biasanya dilakukan oleh pekerja inspect yang telah mengikuti trainning cacat kain dan berlatih, sehingga ia langsung bisa menilainya dengan tepat. Cacat kain dengan kain yang memiliki garis salur- salur tersebut dinamakan cacat bare.
Pada makalah ini kami akan menganalisa penyebab cacat kain bare menggunakan percobaan fisika dan kimia. Pengujian fisika yang akan kami lakukan meliputi pengujian Nomer, kekuatan tarik per helai dan pengujian twist. Pada pengujian kimia kami melakukan uji pembakaran, mikroskop dan pelarutan.

B.     Identifikasi Masalah
1.      Apa penyebab cacat kain bare?
2.      Mengapa warna benang berbeda dengan yang normal?
3.      Apa perbedaan antara benang cacat dan normal?
C.    Maksud dan Tujuan
1.      Untuk mengetahui penyebab cacat kain bare
2.      Untuk mengetahui alasan warna benang yang berbeda dari benang normal
3.      Untuk mengetahui perbedaan karakteristik antara benang cacat dan normal
D.    Manfaat
1.      Mengetahui sumber masalah sehingga dapat memperbaiki proses perajutan
2.      Menambah wawasan penulis mengenai cacat bare
3.      Memberi pemahaman pentingnya evaluasi tekstil untuk menilai instrumen tekstil.

  
BAB II
TEORI DASAR
A.    Uji Kekuatan Tarik
Kekuatan tarik per helai ialah besarnya gaya yang dibutuhkan untuk memutuskan satu helai contoh pengujian, dinyatakan dalam satuan gram. Kekuatan benang hasil pintal dari serat-serat stapel, baik serat kapas maupun sintetik dipengaruhi oleh faktor-faktor : 
-          panjang stapel,
-          kehalusan serat,
-          kekuatan serat,
-          antihan dan gintiran,
-          kerataan, distribusi panjang serat, dan
-          pengerjaan finish serat secara kimia terutama pada serat sintetik.
-          Faktor lain yang mempengaruhi kekuatan benang adalah regain benang, letak serat dan mulur serat individu.
Mesin yang digunakan untuk pengujian ini adalah mesin- mesin dengan laju tarik tetap atau dapat dikatakan jenis pendulum. Mesin ini mempunyai dua alat pemegang contoh (klem), yang salah satunya digerakkan dengan kecepatan yang tetap untuk menghasilkan beban tarik pada contoh uji, penjepit kedua yang memegang ujung contoh yang lain bekerja untuk menggerakkan pendulum. Walau gerakan penjepit dengan kecepatan tetap, karena  pengaruh gerakan yang kecil dari penjepit kedua yang bekerja pada pendulum maka contoh uji tidak mulur dengan tetap. Kecepatan pembebanan tergantung pada perpanjangan contoh uji sehingga dalam pengaruh pada kecepatan pembebanan tidak tetap berbeda menurut bahan yang diuji.
Mesin jenis pendulum biasanya dibuat untuk pengujian benang yang mulurnya normal, karena itu untuk benang sintetik yang mulurnya sangat besar mesin harus dimodifikasi untuk pengujian benang tersebut. 
Mesin ini dapat dibuat dengan macam-macam kapasitas, karena itu mampu melayani pengujian kekuatan yang besar, tetapi pada mesin ini ada beberapa kesalahan yang mempengaruhi ketelitian, misalnya inertia dari peralatan pendulum terlewat karena gaya momentum friksi dan pada umumnya ketepatan pembebanan peralatan nya yang menyebabkan kesalahan. Meski adanya kesalahan, mesin jenis ini tetap populer dalam industri tekstil karena harganya dan biaya operasinya murah serta ketelitiannya cukup untuk pekerjaan-pekerjaan yang rutin.
Gaya yang ditimbulkan dapat dijelaskan sebagai berikut :
W = berat pendulum dan lengan, maka :
Pz  =  WR
R = L sin θ, maka Pz  = WL sin θ,
Karena r, w, dan L tetap, P berubah menurut perubahan sin θ, atau P = k sin θ,
Peneraan alat penguji pendulum
Sebelum alat penguji digunakan sebaiknya dilakukan peneraan terlebih dulu. Persiapan sebelum melakukan peneraan antara lain harus menyediakan beberapa pemberat yang sudah ditera beratnya, alat-alat dalam pemasangan betul, dan kebersihan alat.
Mula-mula mesin dibiarkan dalam keadaan seimbang, pendulum dibiarkan berayun sampai pada titik habisnya, dalam keadaan demikian setel penunjuk ke titik 0. Kemudian satu beban yang diketahui beratnya dipasang pada klem atas, perlahan-lahan beban diturunkan lagi sampai mencapai keadaan seimbang lagi. Lebih baik kecepatan penurunan itu sesuai dengan kecepatan pada waktu kerja. Waktu berhenti, penunjuk haruslah tepat menunjuk a ngka yang sama dengan beban.
Bila penunjukan lebih tinggi, ada beberapa penyebabnya, antara lain :
1.)    Pada mesin model kuno biasanya pendulum dipegang dengan menggunakan skrup, mungkin pemasang pendulum agak ke atas mendekati titik tumpu.
2.)    Ada bahan yang hilang dari pendulum
3.)    Beban pendulum dilepas dan pemasangan kembali lagi tidak pada tempatnya.
Biasanya kesalahan yang didapat pada waktu kalibrasi adalah penunjukan yang paling rendah, dan umumnya disebabkan karena friksi. Bila terjadi demikian harus dicek bearing pada poros atas. Karena bagian ini diminyaki dengan grease khusus, maka setelah bertahun-tahun kotopran mengumpul disana. Untuk membersihkannya, lepaskan bearingdan cucilah dengan gasoline atau pelarut lainnya. Setelah dibersihkan, bearing diminyaki lagi dengan vaselin putih
4.)    Sebab lain terjadinya penunjukan yang lebih rendah mungkin gigi penunjuk yang kotor, maka harus dibersihkan dan diberi minyak pelumas sedikit pada poros dan gigi-gigi dari roda giginya. Kotoran-kotoran pada rantai, pada drum, bisa menyebabkan kesalahan, harus dibersihkan juga kotoran-kotoran pada gifgi-gigi kuadran harus dibersihkan.
5.)    Jika usaha memperbaiki sudah dilakukan tetapi masih juga terdapat penunjukan yang berbeda, tidak apa apa asalkan arah beda penunjukannya selalu tetap. Hal seperti ini bisa dibuatkan angka konversi atau angka kesalahan.
6.)    Kesalahan yang lain bisa disebabkan oleh jepitan yang tidak baik pada klem. Permukaan jepitan harus datar dan sejajar. Cara menceknya dengan menggunakan selembar kertas putih dan kertas karbon yang dijepit dengan klem. Jika bekas karbon tidak merata pada kertas putih, tandanya penjepitan pada klem tidak baik.
Prinsip Pengujian
Sehelai benang dijepit salah satu ujungnya sedang ujung yang lainnya diberi beban atau ditarik oleh suatu beban-gaya. Besarnya beban atau gaya yang maksimal dapat ditahan oleh benang tersebut, menunjukan kekuatan tarik per helainya.
B.     Uji Antihan pada benang
Pengujian antihan pada benang kapas penting untuk diketahui oleh seorang teknisi, pengawas produksi dan pimpinan perusahaan. Seorang teknisi perlu mengetahui antihan pada benang kapas karena berfungsi untuk menentukan pemakaian benang, apakah benang akan digunakan untuk lusi atau pakan atau benang rajut, serta kenampakan hasil akhirnya. Seorang pengawas produksi perlu mengetahui antihan pada benang kapas karena berfungsi untuk pengecekan mesin, apakah sudah sesuai dengan pembuatan jumlah twistnya. Seorang Pimpinan perlu mengetahui antihan pada benang kapas karena berfungsi untuk mengetahui jumlah produksi, pada umumnya perubahan twist akan merubah kecepatan rol depan. Makin tinggi twist maka mesin makin lambat, artinya produksi semakin menurun dan sebaliknya.
Antihan adalah putaran yang dimiliki oleh benang tunggal. Gintiran adalah putaran yang dimiliki oleh benang gintir. Jumlah putaran dapat dinyatakan dalam setiap satuan panjang. Jumlah twist pada benang dapat mempengaruhi sifat- sifat fisik benang, pemakaian benang dan kenampakan hasil akhir.
Arah twist benang dibedakan atas arah kanan atau Z dan arah kiri atau S. biasanya benang- benang tunggal arah twistnya Z sedangkan benang- benang gintir arah twistnya S agar diperoleh benang yang balance.
Pengaruh twist pada benang antara lain:
1.      Kekuatan
Penambahan twist menambah kekuatan benang sampai suatu titik tertentu, sesudah itu penambahan twist akan mengurangi kekuatan.
2.      Mulur
Twist yang tinggi menambah mulur benang sebelum putus pada waktu penarikan.
3.      Pegangan
Twist yang rendah memberikan pegangan yang lembut, sedangkan twist yang tinggi memberikan pegangan yang kasar.
4.      Elastisitas
Twist yang rendah memberikan elastisitas yang kurang pada benang
5.      Kilat
Twist yang tinggi emngurangi kilat benang
6.      Absorbsi
Twist yang tinggi mengurangi absorbsi benang dalam obat- obatan, sehingga sulit dicelup
7.      Arah twist
Twist pada lusi dan pakan searah akan memberikan garis twist yang bersilang. Hal ini akan mengurangi kilat bahan disamping itu akan memberikan pegangan yang kurang lembut.
Cara menyatakan jumlah twist adalah dengan mengetahui twist factor atau twist multiplier (K)
Jenis Benang
twist factor atau twist multiplier (K)
    Rajut
2,25 – 3
Pakan
3 - 4
Lusi
4 - 4,7
Crepe
5,5 - 6
Cara pengukuran twist menggunakan alat diantaranya adalah menggunakanCara kontraksi twist (untwist-twist method, cara pelurusan serat (untwist method) dan cara memutus benang
Cara yang akan dibahas pada laporan ini adalah cara pertama menggunakan alat Twist Tester. Berikut ini adalah bagian- bagian penting dari peralatan twist tester:
1.      Penjepit yang dapat berputar 360o, tetapi diam pada tempatnya. Dapat diputar menggunakan tangan atau motor
2.      Penjepit yang dapat digerakan ke kanan dan ke kiri dan dapat diatur pada kedudukan tertentu sesuai dengan jarak antara satu klem dengan klem yang lainnya.
3.      Skala pengatur jarak antara klem satu dengan klem yang lainnya
4.      Peralatan pengatur tegangan contoh pengujian benang dengan sistem pemberat
5.      Dial untuk menunjukan jumlah putaran penjepit
6.      Loupe untuk pelurusan serat
Tabel Nomer benang dan tension
   Nm
Ne1
Tex
Td
Tension
65
38
0-14
0-139
1
64-41
38-24
15-24
140-224
2
40-18
23-11
25-59
225-529
5
17-9
10-5
60-124
530-1129
10
8-6
4,7-3
125-199
1130-1799
15
5-4
2,9-1,9
200-332
1800-2999
20
3-2,5
1,8-1,5
333-400
3000-4000
30

Prinsip Pengujian
Bila sehelai benang dibuka antihannya, maka akan bertambah panjangnya. Pembukaan maksimal akan tercapai ketika antihan dibuka 100%.  Jika benang yang telah terbuka tadi diberi antihan lagi, maka benang akan bertambah pendek. Panjang benang akan kembali seprti semula jika jumlah antihan yang diberikan sama dengan jumlah antihan semula. Dengan demikian jumlah twist pada benang akan sama dengan jumlah putaran penjepit yang diperlukan dibagi dua. 

C.    Uji Pembakaran
Uji pembakaran ini adalah cara yang paling tua untuk identifikasi serat.cara ini hanya dapat digunakan untuk memperkirakan golongana serat secara umum dan tidak dapat di pertanggung jawabkan untuk campuran serat.  
Persiapan Bahan
Serat yang akan diperiksa di buat kira-kira sebesar benang Ne1 10 dengan panjang 4-5 cm dan di beri puntiran.
Puntiran diberikan agak kuat,supaya terbakarnya agak lambat,sehingga untuk bermacam –macam serat memerlukan waktu  yang hampir sama. Contoh serat didekatkan pada api dari samping dengan perlahan-lahan. Waktu serat dekat nyala api diamati apakah bahan meleleh,menggulung atau terbakar mendadak. Pada saat serat  menyala,supaya diperhatikan dimana terjadinya nyala  api ,dan pada saat serat terbakar oleh nyala segera dipindahkan dari nyala api,dan pada saat serat terbakar oleh nyala segera dipindahkan dari nyala api.Bila nyala  api dari serat segera padam (setelah lepas dari nyala api ) maka segera dicatat bau dari gas yang di keluarkan oleh serat yang terbakar itu.
Tetapi kalau serat  tetap menyala,maka nyala dimatikan dengan jalan meniup dan dicatat bau yang di keluarkan oleh serat yang terbakar itu. Setelah nyala api padam perlu di catat apakah serat mengeluarkan asap atau tidak.Akhir perlu dicata  pula banyaknya bentuknya,warnanya dan kekerasan dari abu sisa pembakaran.
Apabila serat terbakar cepat,meninggalkan abu berbentuk serat dan bebau seperti kertas terbakar,maka keadaan ini meninjukkan serat selulosa, Apabila serat tidak terbakar sama sekali ,maka keadaan ini menunjukkan serat gelas atau asbes. Serat gelas dapat dilihat dari lelehan filamennya yang berbentuk zat padat kasar,dan filamentnya sendiri sangat getas. Adanya zat penyempurnaan pada serat gelas ditunjukkan oleh bau cat terrbakar dan sedikit.
  
D.    Uji Pelarutan
Uji pelarutan berhubungan dengan sifat kimia dari masing-masing serat. Uji ini sangat penting terutama untuk serat-serat buatan yang mempunyai morfologi hampir sama. Dengan melihat kelarutan serat-serat buatan pada berbagai pelarut dapat disimpulkan jenis seratnya. Prinsip pengujiannya adalah melarutkan serat pada beberapa pelarut, kemudian diamati sifat kelarutannya.
           Adapun pelarut yang umum digunakan adalah :
1.      Asam klorida, asam ini akan melarutkan serat nylon.
2.      Asam sulfat 70 %, serat yang larut dalam pelarut ini adalah serat kapas, rayon viskosa, rayon asetat, nylon dan sutera.
3.      Aseton, larutan ini hanya melarutkan rayon asetat.
4.      NaOCl, serat wol dan sutera akan larut dalam larutan ini.
5.      Metil salisilat, larutan ini akan melarutkan serat poliester.
6.      NaOH 45 %, pada suhu mendidih larutan ini akan melarutkan poliester, wol dan sutera.
7.      Meta Cresol, larutan ini akan melarutkan serat rayon asetat dan poliamida.
8.      DMF, larutan ini akan melarutkan poliakrilat, poliamida dan rayon asetat.
9.      Asam nitrat, pada suhu kamar akan melarutkan rayon asetat, wol, poliakrilat dan nylon.

E.     Cacat Kain Rajut
Knitting Defect
No
CACAT (Defect)
Penjelasan
Tingkat
Cacat
1
Barre
Ada seperti coretan horizontal pada kain rajut.
BiasanyaMajor
2
Broken Color Pattern
Benang warna, yang susunan warnanya salah letak.
Major
3
Drop Stitches
Seperti lubang kecil atau kekurangan stick jahitan,
Major
4
End Out
Seperti ujung benang keluar.Terjadi pada benang lusi rajut.
Biasanya Major
5
Hole
Lubang pada kain rajut, karena jarum patah.
Major
6
Missing Yarn
Benang ada yang putus, sehingga kain rajut terlihat jelek.
Major
7
Mixed Yarn
Benang terlihat berbeda-beda (besar/kecil). Hal ini terjadi akibat kesalahan campuran pada serat.
Major
8
Needle Line
Ada garis jarum pada kain rajut.
Major / Minor
9
Press-Off
Desain kain rajut rusak, karena beberapa/semua jarum patah.
Major
10
Runner
Tampak pada kain rajut garis vertical (garis kearah panjang) akibat ada jarum yang patah.
Major
11
Slub
Ada benang tebal pada kain
Major / Minor
12
Straying End
Benang terjalin tidak pada tempatnya.
Major



BAB III
PELAKSANAAN PERCOBAAN
Identifikasi Jenis Kain
Jenis rajutan    : Rib 1x1
Panjang kain    : 200 m
Mesin              : Double Knit
WPI                 :20
CPI                  :35
Gramasi           : 186 g/m2

 
Pengujian Nomer Benang
1.      Memotong Kain contoh uji 10 x 10
2.      Mengukur panjang benang setelah ditiras sebanyak 10
3.      Timbang 10 benang tersebut
4.      Jumlah panjang benang setelah ditiras dibagi berat 10 benang adalah nomer Nm, selanjutnya mencari nomer Ne 1, tex dan Denier

 Mengkeret
 

Panjang benang
No
Panjang Benang (cm)
1.
63,5
2.
63,5
3.
63,5
4.
63,5
5.
63,5
6.
63,5
7.
63,5
8.
63,5
9.
63,5
10.
63,5
635
X
63,5
Berat benang (10 Buah) = 0,12 g
Nomer benang



Pengujian Twist
Hasil Pengujian
1.      Spesifikasi Mesin
-          Mesin Reeling
Henry Baer & Co.S.A
Zurich-Suisse
Fabr No 691430
-          Mesin Uji TPI
Zwegle-Reutligen/German
Type D 312
Tahun 1983; Nr.612
127 V,50Hz
2.      Nomer benang Ne1 39,446
3.      Jarak Jepit = 10”
4.      Arah twist = Z
5.      Jenis benang = benang Single = jumlah putaran / 2x10”



Pengujian Twist Benang Normal
No
Skala Terbaca
TPI
(x-x)2
1.
442
22,1
0,04
2.
442
22,1
0,04
3.
449
22,45
0,0225
4.
449
22,3
0
5.
446
22,45
0,0225
6.
449
22,4
0,01
7.
448
22,15
0,0225
8.
443
22,15
0,0225
9.
445
22,25
0,0025
10.
447
22,35
0,0025
4460
223
0,185
X
446
22,3



Pengujian Twist Benang Cacat
No
Skala Terbaca
TPI
(x-x)2
1.
457
22,85
0,16
2.
467
23,35
0,01
3.
466
23,3
0,0025
4.
467
23,35
0,01
5.
461
23,05
0,04
6.
468
23,4
0,0225
7.
463
23,15
0,01
8.
466
23,3
0,0025
9.
468
23,4
0,0225
10.
467
23,35
0,01
4650
231,5
0,29
X
465
23,25


Pengujian Kekuatan
Hasil Pengujian
Spesifikasi mesin:
-          Nama                                  : Asanometer
-          Kapasitast terpasang          : 500g
-          Jarak Jepit                           : 50
-          Perusahaan                         :Asano Machine MFG.Co.Ltd
-          Negara                                : Osaka,Jepang
-          No seri                                :1684

Tabel Kekuatan tarik per helai dan Mulur Benang Normal
No
Kekuatan
(x-x)2
Mulur
(x-x)2
1.
187
12,96
7,2
0,1296
2.
190
0,36
6,8
0,0016
3.
200
88,36
6,8
0,0016
4.
194
11,56
7,2
0,1296
5.
198
54,76
7,8
0,9216
6.
182
73,96
7
0,0256
7.
180
112,36
6
0,7056
8.
200
88,36
6,6
0,0576
9.
188
6,76
6
0,7056
10.
187
12,96
7
0,0256
1906
462,4
68,4
2,704
X
190,6

6,84




Tabel Kekuatan tarik per helai dan Mulur Benang Cacat
No
Kekuatan
(x-x)2
Mulur
(x-x)2
1.
220
1,21
9
0,01
2.
204
222,01
8,4
0,25
3.
234
228,01
9
0,01
4.
220
1,21
8,6
0,09
5.
222
9,61
8,8
0,01
6.
228
82,81
9
0,01
7.
220
1,21
11
4,41
8.
201
320,41
8,4
0,25
9.
220
1,21
8
0,81
10.
220
1,21
8,8
0,01
2189
868,9
89
5,86
X
218,9

8,9



 Pengujian Pembakaran
Pembakaran serat dilakukan dua kali menggunakan bunsen yaitu benang normal dan benang cacat. Hasilnya adalah sebagai berikut:
Identifikasi
Benang Normal
Benang Cacat
Asap
Putih
Putih
Sisa Pembakaran
Seperti kertas terbakar
Seperti plastik terbakar
Warna abu pembakaran
Abu- abu
Hitam
Bentuk sisa pembakaran
Serbuk abu
Menggumpal


Benang Normal
 

Benang Cacat
 
 





                                               

Pengujian Pelarutan
Pengujian pelarutan kami lakukan dengan 2 jenis larutan yaitu H2SO4 dan metil salisilat. Pada pengujian pembakaran benang normal, kami menebak bahwa ciri-ciri dari data pembakaran adalah serat kapas dan pada pengujian mikroskop kami melihat penampang serat pada benang normal adalah penampang serat kapas, sehingga kami menggunakan H2SO4 sebagai pelarutnya.
Pada pengujian pembakaran benang cacat, kami menebak bahwa ciri-ciri dari data pembakaran adalah serat buatan dan pada pengujian mikroskop kami melihat penampang serat pada benang cacat rata saja, yaitu membujur bulat dan melintang garis lurus sehingga belum jelas serat buatan yang mana, akan tetapi kami memutuskan menggunakan metil salisilat yang dipanaskan. Setelah dicoba keduanya larut, sehingga kami menyimpulkan benang normal adalah dari serat kapas dan benang cacat dari serat poliester.

BAB IV
PEMBAHASAN
Cacat kain Barre yang telah dievaluasi menggunakan evaluasi fisika dan kimia dapat diketahu penyebabnya bahwa ada jenis benang yang berbeda tercampur dalam kain, yaitu benang cotton dan benang poliester. Akibatnya setelah proses pencelupan terdapat garis putih seperti salur- salur pada permukaan kain. Garis putih ini adalah garis yang kami anggap benang cacat, setelah diteliti benang ini adalah poliester. Poliester tidak mampu menyerap zat warna yang digunakan untuk kapas karena daerah kristalin dan amorfnya jauh berbeda. Sedangkan benang kapas akan menyerap zat warna dengan baik karena cocok dengan seratnya. Kain yang terbuat dari kapas biasanya dicelup dengan menggunakan zat warna dari 4 golongan yaitu:
1.      Golongan 1: direk, asam,basa
2.      Golongan 2: bejana, belerang, bejana- belerang
3.      Golongan 3: naftol
4.      Golongan 4: pigmen dan reaktif
Sedangkan poliester menggunakan zat warna dispersi. Setelah diteliti terdapat perbedaan sifat fisika di antara kedua benang tersebut.

Benang Normal
Benang cacat
Kekuatan
190,6 g
218,9 g
Mulur
6,84 %
8,9 %
TPI
22,3
23,25

Pada percobaan ini kami hanya menghitung nomor benang normal saja karena keterbatasan kain, sehingga kami tidak menghitung tensile strength dari benang cacat.
Pencampuran benang ini diperkirakan kesalahan operator menempatkan lot- lot benang pada mesin rajut double knit yang merajut rib, biasanya merek yang digunakan adalah fukohara, majer n cie dan pilloteli.
Pada proses kimia pengujian cacat bare biasanya dilakukan dengan melunturkan warna asli kain, lalu diwarnai lagi dengan zat pengikat warna. Jika barre masih ada berarti masalah ada pada bahan baku benang.

Berdasarkan masalah yang diidentifikasi
1.      Apa penyebab cacat kain bare?
Penyebabnya adalah perbedaan jenis benang yang tercampur dalam kain
2.      Mengapa warna benang berbeda dengan yang normal?
Karena poliester tidak bisa menyerap warna yang digunakan untuk kapas, zat warna yang cocok untuk poliester adalah dispersi.
3.      Apa perbedaan antara benang cacat dan normal?
Berbedaan antara benang normal dan cacat ditinjau dari kekuatan dan twistnya. Pada saat percobaan twist dan kekuatan kami mengasumsikan nomornya sama pemasangan bebannya sama, untuk alat pengukur twist 2 g dan instron 500 g


BAB V
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
Uji
Benang Normal
Benang cacat
Kekuatan
190,6 g
218,9 g
Mulur
6,84 %
8,9%
TPI
22,3
23,25

Pengujian Pembakaran:
1.      Benang Normal: kapas
2.      Benang Cacat: Poliester
Pengujian Mikroskop:
1.      Benang Normal: kapas
2.      Benang Cacat: Poliester
Pengujian Pelarutan:
1.      Benang Normal: kapas
2.      Benang Cacat: Poliester
B.     Saran

Cacar Barre yang sudah dievaluasi tersebut merupakan kerugian bagi produsen yang memperoleh order. Akan tetapi jika dilihat dari nilai estetika apabila cacat bare yang salur-salurnya dibuat teratur maka dapat menimbulkan tren baru. Jadi tidak selamanya cacat dapat menurunkan nilai jual.


DAFTAR PUSTAKA
Moerdoko,wibowo.1974.Evaluasi tekstil bagian kimia.ITT: Bandung
Moerdoko,wibowo.1974.Evaluasi tekstil bagian Fisika.ITT: Bandung
Morton dkk.1992.Physical Properties of Textile Fibres.Textile Institute:Manchaster