Tuesday, March 24, 2020

Cacat Kain Tenun di Inspecting

Kain tenun merupakan kebutuhan kita sehari-hari, contohnya seperti kemeja, sarung, mukena dan lain-lain. Apakah anda pernah menemui mukena dengan harga murah tapi saat diteliti ada beberapa cacat pada kainnya? tentu saja itu adalah strategi marketing untuk perusahaan agar kainnya laku di pasaran. Tidak hanya menyamarkan cacat dengan motif, terkadang dapat dengan pewarnaan atau bordir. Perusahaan sangat mengerti manusia tidak sempurna maka ada grade A,B,C, akan tetapi bagaimana agar kualitas produksi yang tidak sesuai order dapat keluar dari gudang penyimpanan. 

Perusahaan selalu mengharapkan semua produksi berada pada grade A. Caranya dengan meningkatkan kualitas SDM produksi dalam menangani mesin, bahkan adapun yang meningkatkan kuantitas agar satu orang dapat fokus dengan mesin yang menjadi tanggung jawabnya. 

Klien adalah alasan perusahaan agar mempertahankan grade A. Secara garis besar grade dinilai dari persentase jumlah cacat dengan panjang kain. Lalu apa saja cacat yang terjadi pada kain pada saat proses produksi yang dapat menurunkan grade kain? Nah pada kesempatan kali ini kami akan membahas cacat kain pada mesin Shuttle. Cacat yang terjadi pada mesin shuttle jenisnya hampir sama dengan mesin AJL tapi penyebabnya yang berbeda karena ada beberapa bagian mesin yang istilahnya berbeda.

1. Rantas Gebrak
Berikut  ini adalah kenampakan rantas gebrak. Istilah ini dapat berbeda dengan perusahaan lain karena kebanyakan perusahaan di jawa menggunakan bahasa daerahnya masing masing. Peristiwa ini terjadi karena ada sekelompok lusi di dropper yang putus, sehiingga kelompok lusi ini harus di sambung di bagian belakang mesin dengan bantuan loop dan gunting khusus benang. Kebanyakan menyambung putus lusi kelompok dikerjakan oleh dua orang. Satu orang di belakang mencari ujung benang lewat tanda-tanda dropper yang jatuh ke rel dropper, lalu benang tersebut disambung dengan benang cadangan untuk di masukan ke gun. Satu orang lagi di depan memasukan benang ke sisir dan menyambungnya dengan benang yang masih mengikat pada kain.
Proses ini membutuhkan waktu yang lama dan butuh kesabaran serta ketelitian.

2. Benang Bebas Masuk
 Gambar di atas menunjukan ada benang yang masuk pada tenunan. benang ini biasanya berasal dari waste atau ketidaktelitian pekerja yang memperbaiki putus lusi, sampahnya tidak terbuang, maka saat handle dalam posisi on, benang itu ikut ditenun.

3. Pakan Renggang

 Gambar  di atas bila di zoom maka akan terlihat tetal pakan yang berbeda dengan tenunan di bawahnya. Lalu kenapa pakan bisa menjadi renggang? Nah salah satu solusinya kita harus tahu cara menjalankan mesin tenun shuttle saat mesin berhenti tiba-tiba karena sensor yang bekerja. Cara menjalankan mesin tenun shuttle pertama-tama dengan memposisikan poros engkol di saat pembukaan mulut lusi, nah otomatis posisi sisir ada di belakang. Cara memposisikan engkol dapat dengan mendorong rangka sisir ke belakang atau lewat crank shaft yang dapat di putar. Adapun cara lain yaitu dengan memainakan handle. Inilah cara yang mudah tapi tidak benar karena roda gigi rachet akan berputar mendorong penggulungan kain, sehingga terjadi risiko pakan renggang. 

4. Sobek

Berikut ini adalah cacat yang hampir sama dengan rantas gebrak, akan tetapi perbedaannya benang lusi sulit untuk disambung kembali.

5. Rantas Lusi Putus Kelompok


 Berikut ini adalah cacat yang hampir sama dengan rantas gebrak, akan tetapi perbedaannya benang lusi dapat disambung kembali.

6. Tak Teranyam
Berikut ini sangat jelas bahwa ada benang lusi yang tidak ikut teranyam. Hal ini diakibatkan pekerja yang lalai dalam menyambung benang saat mesin berhenti atau dapat terjadi akibat dropper tidak jatuh ke rail atau dapat terjadi karena rail dropper kurang peka.

7. Pakan Kosong 


Berikut ini merupakan gambar yang memperlihatkan pakan kosong. Hal ini diakibatkan cop change tidak bekerja sehingga palet kosong terus menerus dioper kanan kiri. Pada kejadian di atas terjadi pula pada pergantian beam benang kanji, akan tetapi hal tersebut tidak bermasalah karena beam kain akan di doffing.

8. Pakan tebal
Berkut ini  merupakan kenampakan dari cacat pakan tebal. Hal ini bersumber dari benang pakan yang memiliki kualitas U% yang tinggi sehingga jika di zoom maka akan terlihat seperti benang slub.

9.  Pakan Rangkap 

Berikut ini adalah kenampakan pakan rangkap, silahkan di zoom jika kurang jelas. Hal ini dapat terjadi karena masalah pengetekan atau dapat juga karena palet kemasukan nomor benang yang berbeda.

10. Karat Pakan
Berikut ini terlihat karat dari arah pakan sehingga benang pakan adalah benang yang bermasalah di spinning. Karat dapat berasal dari sisa oli  atau permukaan besi yang sudah tidak layak digunakan. jika noda cokelat muncul pada arah lusi, maka dapat bersumber dari pekerjaan tim maintenance yang kurang bersih, biasanya di inspecting disemprot dengan air deterjen supaya bersih kembali.

No comments:

Post a Comment