Thursday, February 28, 2013

Tatsqif I (Tsaqofah Islamiah) Keutamaan Dakwah bersama departemen Kaderisasi KMI Libasuttaqwa STT Tekstil


Hari ini jam 16.30 departemen kaderisasi mengadakan Tatsqif I (Tsaqofah Islamiah)  dengan Judul Keutamaan Dakwah dengan pembicara Dosen Matakuliah Agama TT yaitu bapak Fardan. Acara pembukaan diawali dengan membaca surat An Nahl ayat 16 satu per satu lalu dilanjutkan ke dalam materi. Bagian yang menarik disini adalah mengenai Ayah yang mengajak anaknya dan anak yang mengajak ayahnya untuk berada di jalan Allah. 

Pak Fardan memeberikan contoh kisah nabi Nuh dan nabi Ibrahim. Dalam Kasus nabi Nuh sebagai seorang Ayah ia mengajak putranya untuk menaiki kapal karena akan terjadi banjir yang sangat dasyat di daerah itu. sedangkan anaknya yang bernama Kan'an tidak mau mengikuti ayahnya, dengan percaya diri ia naik ke dataran tinggi agar tidak terkena banjir bandang. akan tetapi banjir itu terlalu dasyat sehingga sampai ke dataran tinggi. Kan'an meninggal dengan keadaan bukan islam. 

Sebagai seorang ayah pasti merasakan kasih sayang terhadap anaknya. Ingin yang terbaik untuk anaknya. kita bisa merasakan bagaimana terlukanya hati seorang ayah yang ditinggalkan oleh anaknya sendiri.

yang selanjutnya kisah nabi Ibrahim yang memiliki ayah bernama Azaar yang berkerja sebagai pemahat patung. suatu ketika Raja pada zaman itu yang bernama Namrud memesan beberapa patung untuk dijadikan sesembahan rakyat. Ketika itu nabi ibrahim merasa heran kenapa ia harus menyembah patung yang dibuat oleh ayahnya sendiri, kenapa tidak ayahnya saja yang disembah, karena ia adalah orang yang membuat patung. Singkat cerita Nabi ibrahim telah diangkat sebagai nabi dan menyebarkan islam terutama kepada ayahnya sendiri.

Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak dapat mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikit pun? Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah setan, sesung­guhnya setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dan Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi setan.'" (QS. Maryam: 42-45)

 Akan tetapi tidak berhasil. ayahnya masih tetap dalam keadaan kafir. 

Sebagai seorang anak, tentu ingin orang tuanya ikut merasakan kenikmatan dalam manisnya islam. Bersama- sama berjuang di jalan Allah, karena ridha Allah tergantung pada orang tuanya.

Dari kedua cerita ini allah memberikan jawaban bahwa mereka bukanlah keluargamu. Dalil Naqli: 


Pertama:
"Kenapa anaknya (kan'an) ikut dihancurkan padahal dia adalah bagian dari keluargaku, dan Engkau sendiri berjanji akan menyelamatkan keluargaku dan menenggelamkan kaumku." (QS. Hûd ayat 45).

Kemudian Allah memberikan jawaban: "bahwa dia (Kan'an) bukan termasuk keluargamu yang dijanjikan akan diselamatkan, karena dia tidak shalih dan beriman kepada Allah. Padahal yang akan diselamatkan dari banjir besar adalah mereka-mereka yang beriman kepada Allah.(Hûd ayat 46).


Ya Tuhanku, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari memohon sesuatu yang aku tidak mengetahui hakikatnya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampunan serta tidak menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk golongan orang-orang yang merugi." (QS. Hûd: 47).


 Kemudian Allah mengabulkan doanya. (QS. Hûd ayat 48).


Kedua: 
"Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun. " (QS. at-Taubah: 114)